Selasa, 22 Februari 2011

(sesat) Alqur’an Produk Budaya

Jawaban untuk kaum “tekstual liberalis” 

Nashr Hamid Abu Zayd , seorang “tekstual liberalis” berpendapat bahwa Aqur’an adalah “produk budaya” artinya Alqur’an, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Namun Alqur’an juga mengubah budaya karena itu ia juga “produsen budaya” 

Jawaban:

Pendapat Nashr Hamid problematis. Kapan Alqur’an menjadi produk budaya dan kapan ia menjadi podusen budaya?

Jika Alqur’an menjadi produk budaya ketika wahyu selesai, maka dalam rentang waktu wahyu pertama turun hingga wahyu selesai, Alqur’an berada dalam keadaan pasif karena ia produk budaya Arab jahiliyah. Namun, ini pendapat salah, karena ketika diturunkan secara gradual, Alqur’an ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyah saat itu. Jadi, Alqur’an bukanlah produk budaya, karena Alqur’an bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Alqur’an justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada. Ia produsen budaya. 

Jika dikatakan bahwa Alqur’an menjadi produk budaya sekaligus produsen budaya sejak awal wahyu diturunkan, maka hal ini membingungkan karena menggabungkan sebab (produsen) dan akibat (produk) pada situasi tertentu. 

Selain itu, Nashr Hamid mengabaikan kompleksitas yang terjadi di dalam kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan adalah istilah abstrak yang tidak seharusnya menjadi pembentuk. Manusia pun bisa membentuk kebudayaan. Rasulullah SAW tidak dibentuk oleh budaya Arab Jahiliyyah. Justru Rasulullah yang membentuk peradaban yang di ridhoi Allah SWT. Jadi Alqur’an bukanlah produk budaya Arab Jahiliyah. Namun justru kebudayaan Arab pada zaman Rasulullah SAW adalah produk dari Alqur’an. 

Alqur’an juga bukan teks bahasa arab biasa, sebagaimana teks-teks sastra Arab lainnya. Menurut Prof Naquib al-Attas, bahasa Arab Alqur’an adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa kata pada saat itu , telah di –Islam-kan maknanya. Alqur’an mengislamkan dan membentuk makna-makna baru dlaam kosa-kata bahasa Arab. Kata-kata penghormatan (muruwwah), kemuliaan (karamah), dan persaudaraan (ikhwah), misalnya, sudah ada sebelum Islam. Tapi, kata-kata itu diislamkan dan diberi makna baru, yang berbeda dengan makna zaman jahiliyah. Kata “karamah”, misalnya yang sebelumnya bermakna “memeliki banyak anak, harta, dan karakter tertentu yang merefleksikan kelelaki-lakian, diubah alqur’an dengan memperkenalkan unsur ketaqwaan (taqwa). Contoh lain, juga pada “ikhwah” yang berkonotasi kekuatan dan kesombongan kesukuan. Ini diubah maknanya oleh Alqur’an, dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan, yang lebih tinggi daripada persaudaraan darah (lihat wan moh Nor Wan Daud, The educational philosophy and practise of syed Muhammad Naquib al-attas: An exposition of the original concept islamization - kuala lumpur: ISTAC, 1998).

Jika Alqur’an teks bahasa arab biasa maka logikanya, Rasulullah SAW ahli di bidang tulisan dan bacaan, yang karena keahliannya itu bisa membawa perubahan sangat mendasar pada masyarakat Arab waktu itu. Padahal Rasulullah SAW itu tidak dapat membaca dan menulis.

Jadi sekalipun Alqur’an disampaikan oleh Rasulullah SAW pada ummatnya pada abad ke-7 masehi, namun ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa Alqur’an terbentuk dalam situasi dan budaya yang ada pada abad ke-7 masehi. Alqur’an melampaui historitasnya sendiri karena Alqur’an dan ajarannya adalah trans-historis. Kebenarannya adalah sepanjang zaman.
 
Alqur’an bukan teks manusiawi, sebagaimana klaim Nashr Hamid, karena ia bukan kata-kata Muhammad SAW. Allah berfirman yang artinya: ”Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya” (qs.Al-Haqqah:44-46) “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (Qs al-Najm:3-4).

Sebenarnya bualan Nashr Hamid tidaklah baru sama sekali. Para orientalis sudah lama berusaha menolak otensitas Alqur’an sebagai wahyu Allah SWT. Jika dulu mereka menyatakan bahwa Alqur’an karangan Muhammad maka beberapa orientalis sekarang ini seperti Montgomery watt dan WC smith membual Alqur’an adalah Kalam Tuhan dan sekaligus kata-kata Muhammad. 

Ringkasnya Nahsr Hamid dan para orientalis hendak memadamkan Islam. Namun Cahaya Islam tak akan redup. Dan Nasr Hamid Abu Zayd yang sudah divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir tahun 1996.

Mari kita memahami, mengkaji  dan mengamalkan Islam secara kaffah sesuai dengan pemahaman yang shahih dari Alqur’an dan Alhadits.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar