Minggu, 13 Februari 2011

Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi


Tidak banyak yang mengenal Ulama besar Minangkabau yang menjabat sebagai Imam Besar Masjidil Haram. Nama lengkap ulama tersebut ialah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi. 

Beliau lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M). 

Saat ia berada di Makkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.

Banyak sekali murid Syeikh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi’i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti :
Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayahanda dari Buya Hamka;
Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi;
Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi,
Syeikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang,
Syeikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi,
Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki,
Syeikh Khatib Ali Padang,
Syeikh Ibrahim Musa Parabek,
Syeikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan
Syeikh Hasan Maksum, Medan.

Tak ketinggalan pula K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, merupakan murid dari Syeikh Ahmad Khatib.

Syeikh Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).

Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam.
 
Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal. Salah satu kritik Syeikh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi ‘alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.

Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan wahtu salat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintangtsabitah dan sayyarah, galaksi dan lainnya.

Syeikh Ahmad Khatib juga pakar dalam geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuan dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab

Semasa hidupnya, ia menulis 49 buku tentang masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Publikasinya tersebar hingga ke wilayah Syiria, Turki dan Mesir.

Beberapa karyanya tertulis dalam bahasa Arab dan Melayu, salah satunya adalah al-Jauhar al-Naqiyah fi al-A’mali al-Jaibiyah. Kitab tentang ilmu Miqat ini diselesaikan pada hari Senin 28 Dzulhijjah 1303 H.

Karya lainnya adalah Hasyiyatun Nafahat ala Syarh al-Waraqat. Syeikh Ahmad Khatib menyelesaikan penulisan kitab ini pada hari Kamis, 20 Ramadhan 1306 H, isinya tentang usul fiqih. Karyanya yang membahas ilmu matematika dan al-Jabar adalah Raudhatul Hussab fi A’mali Ilmil Hisab yang selesai dirulis pada hari Ahad 19 Dzulqaedah 1307 H di Makkah. Kitab-kitab lainnya adalah al-Da’il Masmu’fi al-Raddi ala man Yurist al-Ikhwah wa Aulad al-Akhawat ma’a Wujud al-Ushl wa al-Manhaj al-Masyru’, Dhau al-Siraj dan Shulh al-Jama’atain bi Jawazi Ta’addud al-Jum’atain.


SYEKH Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi (bukan) cucu TUANKU NAN RENCEH?





Suatu kali, tak ingat persis kapan, saya searching di situs http://books.google.com/. Keyword yang saya ketikkan; “tuanku nan renceh”. Setelah tengok sana, sigi sini, mata saya pun terpaku pada sepenggal kalimat yang menyebut; Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy adalah cucu dari Tuanku Nan Renceh, tokoh Paderi nan radikal itu. Seakan tak percaya dengan hal itu, saya gali dan gali lagi informasinya lebih dalam.

Ternyata ada beberapa buku dan artikel yang menyebutkan Tuanku Nan Renceh adalah kakek dari Syekh Ahmad Khatib, seorang tokoh pembaharu asal Minangkabau. Diantaranya Chalijah Hasanuddin (1988), Muhammad Syamsu As (1996), Panji Masyarakat (1999), Susiknan Azhari (2006), A Suryana Sudrajat (2006 dan 2007) dan A. Ikhdan Nizar St Diateh (2008).

Tapi dalam penelusuran lebih lanjut, saya menemukan pula beberapa penulis yang menyebut, kakek Syekh Ahmad Khatib adalah Tuanku Nan Rancak (juga ulama Paderi terkemuka), bukan Tuanku Nan Renceh. Yang menulis begitu diantaranya Buya HAMKA (1982), Akhria Nazwar (1983), Islamic Center Sumatera Barat (2001) dan buku Cahaya dan Perajut Persatuan: Waliullah Ahmad Khatib al-Minangkabawy Penerbit Adicita Karya Nusa (2001).

Menurut Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam, salah seorang cucu dari Syekh Ahmad Khatib. Menurut Muhammad Dafiq Saib (MDS)*, keterangan Buya HAMKA lah yang sesuai dengan ranji keturunan Zainab. "Ambo khawatir Tuanku Nan Rancak suami Zainab ko mungkin dikaliruan urang jo Tuanku Nan Renceh," tulisnya. *MDS adalah anak dari Zakiah anak dari Maryam anak dari Aisyah (salah satu saudara perempuan Syekh Ahmad Khatib).

Meski begitu, dua pendapat kontroversial ini tetap saja membingungkan, setidaknya bagi saya. Apalagi hingga setakat ini belum saya temukan satupun keterangan yang mencoba mengkonfrontir langsung kedua pendapat yang berbeda itu. Karenanya, penelitian lebih konprehensif tentang perkara yang belum jelas duduk tegaknya ini sangat layak untuk diperdalam.

Menurut hemat saya, salah satu dari dua pendapat tentang kakek Syekh Ahmad Khatib ini bisa dipastikan benar. Tapi yang mana? Apakah Tuanku Nan Renceh atau Tuanku Nan Rancak? Kalau Tuanku Nan Renceh yang benar, mana bukti pendukungnya? Kalau Tuanku Nan Rancak, apa pula bukti penguatnya? Apatah lagi, seperti disebut Buya HAMKA, Tuanku Nan Rancak ini adalah seorang ulama terkemuka di zaman Paderi. Kalau iya, kok sejauh ini saya belum menemukan riwayat khusus tentang ulama Paderi bergelar Tuanku Nan Rancak itu.

Atau mungkinkah Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Nan Rancak itu adalah orang yang sama. Meskipun kecil, kemungkinan seperti itu tetap saja ada. Trauma sejarah akibat api pertentangan dan peperangan hebat antara kelompok Tuanku Nan Salapan yang radikal dibawah pimpinan Tuanku Nan Renceh versus gurunya Tuanku Nan Tuo plus Fakih Saghir yang moderat bisa saja memunculkan upaya untuk menghapus jejak tragedi itu. Betapa hebatnya pertentangan murid dengan gurunya itu terekam jelas dalam Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin karangan Fakih Saghir.

Berdasarkan penelusuran gineakologi, Tuanku Nan Rancak (atau bisa jadi Tuanku Nan Renceh) dan Syeikh Jalaluddin Fakih Saghir adalah besan. Anak Tuanku Nan Rancak dari hasil perkawinannya dengan Zainab yakni Limbak Urai dikawinkan dengan Abdullatif Khatib Nagari (anak Syeikh Jalaluddin Fakih Saghir). Dari perkawinan itu lahirlah beberapa anak, diantaranya Ahmad Khatib. Artinya, Tuanku Nan Rancak atau Tuanku Nan Renceh adalah kakek Ahmad Khatib di pihak ibu dan Syeikh Jalaluddin Fakih Saghir adalah kakek di sebelah bapak.

Pengaburan fakta dan atau pengeliruan penyebutan (seperti diduga MDS) antara Tuanku Nan Rancak dengan Tuanku Nan Renceh sangat mungkin terjadi. Bisa sengaja atau tidak disengaja. Asumsi ini bisa saja benar mengingat adanya pertentangan yang amat hebat antara Tuanku Nan Renceh dkk dengan gurunya Tuanku Nan Tuo dan Fakih Saghir. Saking hebatnya pertentangan itu, Sang Guru disebut Tuanku Nan Salapan sebagai Rahib Tua. Fakih Saghir malah digelari Raja Kafir. Keduanya pun diperangi beramai-ramai. Hingga pada suatu kesempatan, anak-anak sang gurupun dibunuh lewat sebuah tipu muslihat.

Bilamana Tuanku Nan Rancak adalah Tuanku Nan Renceh yang radikal itu, sangat wajar kiranya kalau namanya dihitamkan dari daftar silsilah pihak keluarga istrinya Zainab. Apalagi dia adalah pemimpin dari sekelompok murid yang dicap "durhaka" dan tega-teganya memerangi sang guru (Tuanku Nan Tuo) dan anaknya Fakih Saghir yang tak lain merupakan kawan dekat Tuanku Nan Renceh sendiri sewaktu menuntut ilmu di mesjid Koto Ambalau di Nagari Canduang Koto Laweh.




SENARAI KUTIPAN


A. Tuanku Nan Renceh - Kakek Ahmad Khatib?




Chalidjah Hasanuddin (Al-Jamíyatul Washliyah, 1930-1942: Api dalam Sekam di Sumatera Timur Penerbit Pustaka, 1988, 186 halaman) pada catatan kaki halaman 152 bertutur seperti berikut:“Ayahnya adalah kepala Jaksa di Padang, ibunya anak dari Tuanku Nan Renceh, seorang ulama terkemuka di kalangan kaum Padri.”
 










Muhammad Syamsu As pada halaman 270 bukunya Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Edisi: 2, Penerbit Lentera Basritama, 1996, 345 halaman menyebut: “Sedangkan ibunya anak dari Tuanku Nan Renceh, seorang ulama Paderi di Minangkabau. Ibunya ini adalah adik dari ibu Syekh Thaher Jalaluddin (1869-1956).”






Kutipan dari Majalah Panji masyarakat, Volume 3 – 1999 halaman 120 menyebut:“Ibunya (Ahmad Khatib, Red) anak Tuanku nan Renceh, ulama terkemuka dari golongan Padri.”







Susiknan Azhari dalam bukunya Ensiklopedi Hisab Rukyat terbitan Pustaka Pelajar, 2005, 277 halaman" menulis pada halaman 15: “Ibu Ahmad Khatib adalah Limbah Urai, anak Tuanku Nan Renceh, seorang ulama Paderi terkemuka.”






Suryana Sudrajat dalam Ulama Pejuang dan Ulama Petualang: Belajar Kearifan dari Negeri Atas Angin, Penerbit Erlangga, 2006, 103 halaman menyebut: “Ibunya anak Tuanku nan Renceh, ulama terkemuka dari golongan Padri.”




















Masih menurut Suryana Sudrajat dalam Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916), Guru Kaum Pembaru Generasi Awal, Nopember 29, 2007, yang dikutip Selasa, 12/8/2008 menyebut: “Ahmad Khatib boleh dibilang berasal dari keluarga terkemuka dan dinamis. Dia lahir di Bukittinggi pada tahun 1855. Ayahnya Jaksa Kepala di Padang. Ibunya anak Tuanku nan Renceh, ulama terkemuka dari golongan Paderi. Tidak syak lagi, darah yang mengalir di tubuh Ahmad Khatib berasal dari golongan ulama dan kaum adat.”






Ikhdan Nizar St Diateh dalam Haji Baroen bin Ja’koeb Pendiri Surau Pengajian Pertama dan Terakhir di Kotogadang? Minggu, 24 Februari 08 yang tertuang semula dalam http://www.kotogadang-pusako.com/cetak.php?id=96 menukil: “…ingat akan Syekh Ahmad Khatib, yang babako ka Kotogadang, cucu Tuanku Nan Renceh ulama kaum Paderi, yang pergi belajar ke Mekah lalu tidak pernah pulang lagi.”…..”Akan tetapi hal ini bisa terbantahkan oleh kenyataan seorang bernama Abdul Latif berasal dari Kotogadang menjadi menantu Tuanku Nan Renceh, seorang ulama Paderi terkemuka, dan anaknya adalah Syekh Ahmad Khatib yang sangat kritis terhadap adat Minangkabau."







Nukilan ini dikutip Kamis 27/8/2009 dari Blog Buya Masoed Abidi



B. Tuanku Nan Rancak - Kakek Ahmad Khatib?



Buya HAMKA dalam bukunya Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Penerbit Ummida, 1982 pada halaman 271, menulis:“Ibu Syekh Ahmad Khatib adalah orang Empat Angkat. Ibunya bernama Limbak Urai. Ayah dari Limbak Urai ini adalah Tuanku Nan Rancak, seorang ulama terkemuka di zaman Paderi…”







Sementara Akhria Nazwar pada halaman 5 bukunya berjudul Ahmad Khatib, Ilmuwan Islam di Permulaan Abad ini, Penerbit Pustaka Panjimas, 1983, 117 halaman menulis: ”Ayah Limbak Urai ialah Tuanku Nan Rancak, seorang ulama terkemuka pada zaman Paderi.”






Pada halaman 94 buku Riwayat Hidup Ulama Sumatera Barat dan Perjuangannya yang ditulis dan diterbitkan oleh Islamic Centre Sumatera Barat, 2001, 224 halaman, dinukil: “Tuanku Bagindo Khatib mempunyai seorang anak wanita bernama Siti Zainab. Siti Zainab dikawinkan dengan Tuanku Nan Rancak, juga ulama besar."







Sementara itu pada halaman 11 buku Cahaya dan Perajut Persatuan: Waliullah Ahmad Khatib al-Minangkabawy Penerbit Adicita Karya Nusa, 2001, 85 halaman, disebut: “Kakek Ahmad Khatib bernama Tuanku Nan Rancak. Ia adalah seorang ulama terkemuka dalam Perang Paderi.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar